FEATLIST

Minggu, 23 Mei 2010

5 “Rahasia” Tifus


Sssst… ternyata penderita penyakit tifus tidak harus makan bubur.
Soal bubur baru merupakan salah satu rahasia dari penyakit tifus yang kerap diderita anak-anak. Mengapa bubur tak harus jadi menu utama? Dan apa “rahasia” lainnya, simak penuturan ini:

1. BUBUR TAK HARUS JADI MENU WAJIB PENDERITA TIFUS
Penyakit tifus identik dengan menu ketat berbahan utama bubur. Bahkan bubur itu harus disaring sehalus mungkin. “Biar ususnya tidak tambah sakit,” begitu kata orang. Tidak cuma itu. Berbagai pantangan pun harus dijalani. Tidak boleh makan ini dan itu. Walhasil, penderita hanya makan bubur dengan lauk pauk seadanya. Dengan menu seperti itu, anak yang menderita tifus boleh jadi tidak nafsu makan, bahkan menolak makan. Siapa sih yang mau melahap bubur hambar miskin lauk? Selain itu, kandungan kalori sepiring bubur lebih sedikit ketimbang nasi. Jika sepiring bubur mengandung 80-100 kalori, maka sepiring nasi dapat empat kalinya. Walhasil, bubur tak hanya membuat nafsu makan anak hilang, tapi juga membuat tubuhnya lemas. Jika asupan gizi anak kurang maka dapat dipastikan waktu penyembuhan semakin lama.
Dulu, penderita penyakit tifus wajib makan bubur dengan alasan khawatir terjadi gangguan pada pencernaan atau perdarahan pada usus. Pendapat ini tampaknya perlu diluruskan. Sebab, gangguan pencernaan akibat bakteri Salmonella typhi ada di usus halus. Perlu diketahui, makanan yang sudah masuk usus halus semuanya berbentuk cair. Ini karena sebelumnya makanan itu dikunyah di mulut, lalu diproses di lambung, lalu ke usus halus. Meski asalnya makanan itu padat, tapi kalau sudah masuk usus halus semuanya akan berbentuk cair.
Jadi, sebenarnya tidak ada pantangan buat penderita penyakit tifus makan nasi lembek. Perkecualian jika penderita tidak sadar, maka penderita disarankan mengonsumsi menu makanan cair.
Pantangan buat penderita tifus adalah makanan berserat tinggi seperti sayur-sayuran atau buah. Tapi jika diberikan sedikit tidak mengapa. Juga makanan yang berisiko menimbulkan kontraksi pada pencernaan seperti makanan pedas atau asam. Penderita dianjurkan mengonsumsi makanan berprotein tinggi seperti daging, telur, susu, tahu, tempe, dan lain-lain. Dengan demikian, nafsu makan anak membaik, waktu penyembuhan pun semakin cepat.

2. HARUS ISTIRAHAT
Agar lekas pulih, penderita tifus memang harus banyak beristirahat di tempat tidur. Untuk keperluan buang air, misalnya, sedapat mungkin penderita tidak beranjak dari tempat tidur. Banyak pergerakan dapat menyebabkan suhu naik. Bahkan jika terlalu heboh, aktif bergerak dapat menimbulkan risiko usus pecah. Jadi, biarkan si kecil tetap istirahat dan tidak terlalu banyak bergerak. Temani, hibur, atau bacakan dongeng jika perlu.

3. TES WIDAL POSITIF TIDAK SELAMANYA TIFUS
Untuk mengetahui seseorang terjangkit tifus atau tidak, maka tes yang umum digunakan adalah tes Widal. Jika positif berarti tifus, jika tidak maka mungkin penderita terjangkit penyakit lain. Padahal, Widal positif tidak selalu berarti penderita terjangkit tifus. Ini karena orang sehat sekalipun jika dites widal hasilnya bisa positif. Seorang dokter penyakit dalam bahkan pernah berkelakar, jika pasien, perawat, bahkan dokter yang berpraktik di kliniknya dites Widal, maka bukan tidak mungkin hasilnya positif semua. Ingat, kebersihan merupakan sebuah hal yang sulit dicari di negeri ini. Nasi goreng yang biasa kita santap bersama teman, es jeruk yang diseruput di warung tegal, bahkan menu makanan di kantin, tidak ada jaminan bebas tifus 100%. Namun, karena jumlah kuman yang masuk ke dalam tubuh tidak sampai menginfeksi, sakit tifus pun tidak terjadi. Ini berbeda dengan kondisi di Eropa atau Singapura yang sanitasinya sudah baik. Tes Widal positif berarti kemungkinan besar terjadi infeksi tifus.

Namun, tidak berarti tes Widal diragukan akurasinya. Jika tesnya dilakukan di waktu yang tepat, plus diagnosis klinisnya benar, maka penyakit tifus dapat dengan mudah terdeteksi. Tes Widal idealnya dilakukan setelah hari ke-5 atau 6, sesudah penderita mengalami gejala klinis tifus yaitu demam. Jika dilakukan sebelum itu maka hasilnya tidak akurat. Selain itu, selidiki juga gejala lainnya seperti sembelit, nyeri perut, lidah kotor, muntah, dan lain-lain. Dengan kombinasi tes Widal dan deteksi gejala, maka penyakit tifus dapat dideteksi dengan mudah. Selain harganya yang lebih ekonomis, tes Widal juga dapat mendeteksi penyakit paratifus, sebuah penyakit dengan gejala mirip tifus tapi lebih ringan. Paratifus disebabkan bakteri Salmonella paratiphy. Sedangkan tifus disebabkan bakteri Salmonella typhi.


Gejala Tifus


gejala tipus
Penyakit tifus atau demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan di negara-negara berkembang, umumnya di daerah tropis dan khususnya di Indonesia, di mana angka kejadiannya meningkat pada musim kemarau panjang dan di awal musim hujan.
Selain memerlukan perawatan dan masa pemulihan yang cukup lama, tidak jarang penyakit tersebut disertai dengan komplikasi dan berakhir dengan kematian.

Angka kejadian penyakit tifus di Indonesia rata-rata 900.000 kasus/tahun dengan angka kematian lebih dari 20.000 di mana 91% kasus terjadi pada usia 3-19 tahun.


Apakah Penyakit Tifus itu ?

Penyakit tifus atau demam tifoid merupakan infeksi berat pada usus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.


Penularannya dapat terjadi melalui kontak antar manusia atau jika makanan dan minuman yang dikonsumsi terkontaminasi dikarenakan penanganannya yang tidak bersih.


Kapan Penyakit Tifus Menimbulkan Gejala ?

Selang waktu antara infeksi dan permulaan sakit (masa inkubasi) bergantung dari banyaknya bakteri yang masuk ke tubuh. Masa inkubasi berkisar antara 8-14 hari.


Apa Saja Gejala Penyakit Tifus ?
Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pa umumnya seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare pada anak-anak atau sulit buang air pada orang dewasa, suhu tubuh meningkat terutama sore dan malam hari.
Setelah minggu ke dua gejala menjadi lebih jelas, yaitu demam yang tinggi terus-menerus, nafas berbau tak sedap, kulit kering, rambut kering, bibir kering pecah-pecah, lidah ditutupi selaput putih kotor, pembesaran hati dan limpa dan timbul rasa nyeri bila diraba, perut kembung. Anak nampak sakit berat, disertai gangguan kesadaran dari yang ringan, acuh tak acuh (apatis), sampai berat (koma).
Penyakit tifus yang berat menyebabkan komplikasi perdarahan, kebocoran usus, infeksi selaput usus, renjatan bronkopnemonia (peradangan paru) dan kelainan di otak. 
Apa Yang Harus Dilakukan Jika Menemukan Gejala Penyakit Tifus ?

Jika terdapat gejala penyakit tifus segera lakukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis penyakit tifus. Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan komplikasi yang berakibat pada kematian.


Pemeriksaan Laboratorium Apa Sajakah Yang Dapat Dilakukan ?

Kultur Gal

Diagnosis definitive penyakit tifus dengan isolasi bakteri Salmonella typhi dari specimen yang berasal dari darah penderita.

Pengambilan specimen darah sebaiknya dilakukan pada minggu pertama timbulnya penyakit, karena kemungkinan untuk positif mencapai 80-90%, khususnya pada pasien yang belum mendapat terapi antibiotic. Pada minggu ke-3 kemungkinan untuk positif menjadi 20-25% and minggu ke-4 hanya 10-15%.

Widal

Penentuan kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam darah (antigen O muncul pada hari ke 6-8, dan antibodi H muncul pada hari ke 10-12).

Pemeriksaan Widal memberikan hasil negatif sampai 30% dari sampel biakan positif penyakit tifus, sehingga hasil tes Widal negatif bukan berarti dapat dipastikan tidak terjadi infeksi.

Pemeriksaan tunggal penyakit tifus dengan tes Widal kurang baik karena akan memberikan hasil positif bila terjadi :
Infeksi berulang karena bakteri Salmonella lainnya 
Imunisasi penyakit tifus sebelumnya 
Infeksi lainnya seperti malaria dan lain-lain 
Apakah Pemeriksaan Dengan Kultur Gal dan Widal Sudah Cukup Untuk Mendeteksi Penyakit Tifus ?
Tidak, karena pemeriksaan Kultur Gal sensitivitasnya rendah, dan hasilnya memerlukan waktu berhari-hari, sedangkan pemeriksaan Widal tunggal memberikan hasil yang kurang bermakna untuk mendeteksi penyakit tifus.
Tidak, karena melihat pengalaman selama ini, banyak sekali kasus infeksi dengan diagnosis positif penyakit tifus yang dihasilkan dari pemeriksaan Kultur Gal dan Widal, sudah mulai diberikan obat antibiotika, namun ternyata menderita demam karena virus, misalnya dengue. 
Pemeriksan Apakah Yang Dapat Dijadikan Alternatif Untuk Mendeteksi Penyakit Tifus ?

Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM dengan reagen TubexRTF sebagai solusi pemeriksaan yang sensitif, spesifik, praktis untuk mendeteksi penyebab demam akibat infeksi bakteri Salmonella typhi.


Apakah Yang Dimaksud Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM Dengan Reagen TubexRTF ?

Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM dengan reagen TubexRTF dilakukan untuk mendeteksi antibody terhadap antigen lipopolisakarida O9 yang sangat spesifik terhadap bakteri Salmonella typhi.

Apakah Kelebihan Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM Dengan Reagen TubexRTF ?
Deteksi infeksi akut lebih dini dan sensitive, karena antibodi IgM muncul paling awal yaitu setelah 3-4 hari terjadinya demam (sensitivitas > 95%). 
Lebih spesifik mendeteksi bakteri Salmonella typhi dibandingkan dengan pemeriksaan Widal, sehingga mampu membedakan secara tepat berbagai infeksi dengan gejala klinis demam (spesifisitas > 93%). 
Memberikan gambaran diagnosis yang lebih pasti karena tidak hanya sekedar hasil positif dan negatif saja, tetapi juga dapat menentukan tingkat fase akut infeksi. 
Diagnosis lebih cepat, sehingga keputusan pengobatan dapat segera diberikan. 
Hanya memerlukan pemeriksaan tunggl dengan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan Widal serta sudah diuji di beberapa daerah endemic penyakit tifus. 
Peningkatan angka kejadian demam tifoid terjadi karena beberapa hal, yaitu sanitasi yang buruk, pasien carrier yang tidak terdeteksi, dan keterlambatan diagnosis.

Keterlambatan diagnosis penyakit tifus antara lain disebabkan selang waktu antara infeksi dan permulaan sakit yang terlalu lama (berkisar 8-14 hari) dan metode pemeriksaan yang digunakan tidak dapat mendeteksi secara cepat dan tepat.

Makin cepat penyakit tifus dapat dideteksi, maka pengobatan yang tepat dapat segera diberikan sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi bahkan kematian, karena mekanisme kerja daya tahan tubuh masih cukup baik dan bakteri masih terlokalisasi hanya di beberapa tempat saja.


Rabu, 17 Maret 2010

WHO Tetapkan Flu Babi Sebagai Pendemi


Pandemi flu pertama dalam waktu 41 tahun

Saat-saat menjelang pengumuman
Organisasi kesehatan dunia, WHO menyebut, virus flu babi telah mewabah hingga ke seluruh dunia. Dunia kini menghadapi ancaman. Para pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengadakan pertemuan untuk memutuskan apakah akan mengumumkan pandemi flu H1N1 (flu babi).

WHO juga telah berkonsultasi dengan komite pakar flu yang terdiri dari para ilmuwan, yang bisa merekomendasikan pengumuman pandemi. WHO juga mengindikasikan kemungkinan penetapan status pandemik, yang berarti akan menjadi status 'genting' pertama dalam empat dasawarsa. Demikian disampaikan juru bicara WHO Gregory Hartl seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (11/6/2009). Dikatakan Hartl, pertemuan itu akan digelar di Jenewa hingga hari Rabu, 10 Juni waktu setempat, WHO melaporkan jumlah kasus flu H1N1 secara global mencapai 27.737 kasus di 74 negara, termasuk 141 kematian. Negara-negara seperti Australia, Inggris dan Jepang saat ini tengah diawasi dengan ketat. Sebab negara-negara tersebut, khususnya Australia melaporkan jumlah kasus yang terus melonjak.Di Australia, jumlah kasus flu H1N1 sejauh ini telah mencapai 1.263 kasus. Inggris melaporkan 666 kasus termasuk 106 kasus baru pada 10 Juni kemarin. Sedangkan Jepang telah melaporkan 75 kasus baru sehingga kini total kasus mencapai 485.Jumlah kasus flu H1N1 terbanyak masih dilaporkan di Amerika Serikat dengan lebih dari 13 ribu kasus. "Untuk yang satu ini (pandemi), saya tidak bisa memungkirinya. Saya akan segera membuat pengumuman," kata Direktur Utama WHO, Margaret Chan seperti dilansir BBC, Kamis (11/6/2009).

Pandemi Pertama sejak Abad 21
Badan Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya mengumumkan virus flu Babi sebagai pendemi. Ini adalah yang pertama kalinya sejak abad 21. Badan yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ini juga menetapkan fase virus flu babi sampai pada level 6.

"Ini sangat penting dan menantang bagi kita semua. Hal ini penting karena kami akan menaikkan tingkat ke level 6," ujar Direktur Jenderal WHO Dr Margaret Chan yang dikutip dari reuters.

Meskipun akan dinaikkan ke level 6, Chan membantah jika naiknya level ini dikarenakan dengan semakin meningkatnya jumlah kematian akibat dari flu babi. "Pindah ke enam tahap pandemi, tidak berarti kita akan melihat adanya peningkatan jumlah kematian atau kasus yang sangat parah," tegasnya. "Cukup sebaliknya. Banyak orang yang memiliki penyakit ringan, mereka sembuh tanpa obat-obatan dalam beberapa kasus dan berita bagus," sambungnya.

Dengan dinaikkannya level flu babi, WHO tetap menyarankan kepada ke-193 negara anggota untuk tidak menutup perbatasan atau memutus jalur perjalanan ke berbagai tempat, termasuk jalur barang dan jasa.

Kasus flu babi tembus jumlah lebih dari 25.000
Wabah virus flu H1N1 (flu babi) belum juga mereda. Bahkan kini jumlah kasus flu babi secara global telah menembus angka 25 ribu!. Sejauh ini sudah 73 negara yang secara resmi melaporkan kasus flu babi. Jumlah kasus flu babi terbanyak masih terjadi di Amerika Serikat (AS). Bahkan jumlah kasus di negeri adikuasa itu terus melonjak tajam. Pemerintah AS hingga kini telah melaporkan 13.217 kasus termasuk 27 kematian.Diikuti kemudian oleh Meksiko yang menempati urutan kedua. Jumlah kasus flu H1N1 di Meksiko terbilang stabil. Sejauh ini negeri itu telah melaporkan 5.717 kasus termasuk 106 kematian.Kanada merupakan negara dengan kasus flu babi terbanyak ketiga di dunia. Negara itu telah melaporkan 2.115 kasus termasuk 3 kematian akibat virus flu H1N1.Keiji Fukuda, Pjs Wakil Dirjen WHO mengungkapkan keprihatinannya atas terus menyebarnya virus flu H1N1. Bahkan jumlah kasus di Australia melonjak hingga lebih dari 1.000 kasus pada Senin, 8 juni lalu. Saat ini, lebih dari 1.200 kasus flu babi telah menjangkit penduduk negeri Kangguru. Dalam seminggu terakhir, 4 orang dinyatakan positif terjangkit flu babi. Sebulan lalu, belum banyak kasus H1N1 terjadi di Australia. Namun beberapa minggu terakhir jumlah penderitanya meningkat. Negara bagian Victoria, Melbourne adalah daerah yang paling banyak terjangkit flu babi. JUmlah penderitanya mencapai lebih dari 1.000 orang. Situasinya benar-benar berkembang luas beberapa hari terakhir.

"Kami saat ini sudah sangat dekat untuk mengetahui kalau kita dalam situasi pandemi, atau saya pikir, mengumumkan bahwa kita dalam situasi pandemi," kata Fukuda dalam telekonferensi dari Jenewa seperti dilansir Reuters , Rabu (10/6/2009). Ditekankan Fukuda, WHO ingin menghindari "efek samping" jika pihaknya mengumumkan pandemi flu babi. Sebab dikatakan Fukuda, masyarakat mungkin panik atau pemerintah bisa saja mengambil tindakan-tindakan yang tidak perlu jika WHO mengumumkan pandemi flu babi. Saat ini setidaknya 26.563 kasus flu babi telah dilaporkan di 73 negara termasuk 140 kematian. Jumlah kematian tertinggi terjadi di Meksiko dengan lebih dari 100 kematian. Namun jumlah kasus terbanyak dilaporkan di AS yang hingga kini telah mencapai lebih dari 13 ribu kasus.

Depkes R.I. Siaga I

Jakarta - WHO akan menaikkan wabah flu babi (H1N1) ke level 6 alias pandemi. Masyarakat diminta tidak khawatir dan tetap waspada. "Kita dengar hari ini kami mendapat e-mail rencananya hari ini akan dinaikkan ke level 6. Meskipun angka kematiannya masih setengah persen, dan yang terkena hanya negara-negara maju," kata Menkes Siti Fadilah Supari. Hal ini disampaikan dia sebelum acara Rapimnas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2009). Dikatakan bu’ Menkes, Depkes sudah siap dan siaga I. Masyarakat tidak perlu panik tetapi tetap waspada. "Rumah sakit-rumah sakit kita persiapkan dan hari ini kita berikan surat edaran, meminta mereka untuk siap-siap," ujarnya.


Antisipasi Penyebaran Flu Babi oleh Depkes RI
Ada tujuh langkah yang ditempuh oleh Pemerintah Indonesia melalui Departemen Kesehatan dalam mewaspadai dan mencegah penyebaran Virus H1N1 atau Flu Babi (Swine Flu). Demikian dikatakan dalam surat edaran dari Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari yang dibacakan langsung oleh Direktur Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Prof Dr dr Cissy RS Prawira SpA(K) MSc, di Ruang Pers RS Hasan Sadikin Bandung, Selasa.

1. Sudah terpasangnya thermal scanner (alat pendeteksi suhu tubuh) di terminal kedatangan bandara internasional.
2. Mengaktifkan kembali sekitar 80 sentinel untuk surveillance ILI dan Pneumonia baik dalam bentuk klinik atau virologi.
3. Menyiapkan obat-obatan yang berhubungan dengan penaggulangan Flu Babi yang pada dasarnya adalh Oseltamivir yang sama untuk H5N1 (virus Flu Burung),
4. Menyiapakan 100 rumah sakit rujukan yang sudah ada dengan kemampuan menangani kasus Flu Babi.
5. Menyiapkan kemampuan laboratorium untuk pemeriksaan H1N1 (virus Flu Babi) di berbagai Laboratorium Flu Burung yang sudah ada,
6. Menyebarluaskan informasi ke masyarkat luas dan menyiagakan kesehatan melalui desa siaga.
7. Simulasi penanggulangan Pandemi Influenza yang baru dilakukan minggu lalu di Makasar juga merupakan upaya nyata persiapan pemerintah dalam menghadapi berbagai kemungkinan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau Public health Emergency Internasional Concern (PHEIC) seperti Flu Babi.


Dikutip dari berbagai sumber.


VIDEO

ENTER-TAB1-CONTENT-HERE

RECENT POSTS

ENTER-TAB2-CONTENT-HERE

POPULAR POSTS

ENTER-TAB3-CONTENT-HERE
 

CONTOH THEME & WEBHOST Copyright © 2010 Premium Wordpress Themes | Website Templates | Blogger Template is Designed by Lasantha.